Tugas Psikologi Umum
UNIVERSITAS
GUNADARMA
FAKULTAS
PSIKOLOGI
PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI
NAMA
: Yosephin Aritonang
NPM : 1C514474
Dosen :
Arsy Binawanti S.Psi
Tokoh : Jean Piaget
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2014/2015
TOKOH PSIKOLOGI PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI
A.
BIODATA
TOKOH
Piaget dilahirkan di Neuchâtel di wilayah Swiss yang berahasa
Perancis. Ayahnya, Arthur Piaget, adalah seorang profesor dalam sastra Abad
Pertengahan di Universitas Neuchâtel. Piaget adalah seorang anak yang terlalu cepat
menjadi matang, yang mengembangkan minatnya dalam biologi dan dunia
pengetahuan alam, khususnya tentang moluska (kerang-kerangan),
dan bahkan menerbitkan sejumlah makalah sebelum ia lulus dari SMA. Malah,
kariernya yang panjang dalam penelitian ilmiah dimulai ketika ia baru berusia
11 tahun, dengan diterbitkannya sebuah makalah pendek pada 1907 tentang burung gereja albino. Sepanjang
kariernya, Piaget menulis lebih dari 60 buah buku dan ratusan artikel.
Piaget memperoleh gelar Ph.D. dalam ilmu alamiah dari Universitas Neuchâtel, dan juga belajar
sebentar di Universitas Zürich. Selama masa ini, ia menerbitkan dua makalah
filsafat yang memperlihatkan arah pemikirannya pada saat itu, tetapi yang
belakangan ditolaknya karena dianggapnya sebagai karya tulis seorang remaja.
Minatnya terhadap psikoanalisis, sebuah aliran pemikiran psikologi yang berkembang pada
saat itu, juga dapat dicatat mulai muncul pada periode ini.
Belakangan ia pindah dari Swiss ke
Grange-aux-Belles, Perancis, dan di sana ia
mengajar di sekolah untuk anak-anak lelaki yang dikelola oleh Alfred Binet, pengembang tes intelegensia Binet. Ketika ia
menolong menandai beberapa contoh dari tes-tes intelegensia inilah Piaget
memperhatikan bahwa anak-anak kecil terus-menerus memberikan jawaban yang salah
untuk pertanyaan-pertanyaan tertentu. Piaget tidak terlalu memperhatikan pada
jawaban-jawaban yang keliru itu, melainkan pada kenyataan bahwa anak-anak yang
kecil itu terus-menerus membuat kesalahan dalam pola yang sama, yang tidak
dilakukan oleh anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa. Hal ini menyebabkan
Piaget mengajukan teori bahwa pemikiran atau proses kognitif anak-anak yang
lebih kecil pada dasarnya berbeda dengan orang-orang dewasa. (Belakangan, ia
mengajukan teori global tentang tahap-tahap perkembangan yang menyatakan bahwa
setiap orang memperlihatkan pola-pola kognisi umum yang khas dalam setiap tahap
perkembangannya.) Pada 1921, Piaget kembali ke Swiss sebagai direktur Institut Rousseau di Jenewa.
Pada 1923, ia menikah dengan Valentine
Châtenay, salah seorang mahasiswinya. Pasangan ini memperoleh tiga orang anak,
yang dipelajari oleh Piaget sejak masa bayinya. Pada 1929, Jean Piaget menerima jabatan sebagai
Direktur Biro Pendidikan Internasional, yan tetap
dipegangnya hingga 1968. Setiap tahun, ia menyusun "Pidato
Direktur"nya untuk Dewan BPI itu dan untuk Konferensi Internasional
tentang Pendidikan Umum, dan di dalamnya ia secara eksplisit mengungkapkan
keyakinan pendidikannya.
PSIKOLOGI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
B.
Teori
perkembangan kognitif
Piaget menekankan bahwa anak-anak secara aktif
membangun dunia kognitif mereka sendiri, informasi dari lingkungan tidak begitu
saja dituangkan ke dalam pikiran-pikiran mereka. Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan
batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan
lingkungannya. Kecerdasan merupakan proses yang berkesinambungan yang membentuk
struktur yang diperlukan dalam interaksi terus menerus dengan lingkungan.
Struktur yang dibentuk oleh kecerdasan, pengetahuan sangat subjektif waktu
masih bayi dan masa kanak–kanak awal dan menjadi objektif dalam masa dewasa
awal.
Menurut
Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu
- kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf;
- pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara orgnisme dengan dunianya;
- interaksi sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial, dan
- ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempau mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
Bagi anak
yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui fisik (gerakan anggota
tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Pada mulanya pengalaman itu bersatu
dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada
penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek
yang asalnya terlihat kemudian menghiang dari pandangannya, asal perpindahanya
terlihat. Akhir dari tahap ini ia
mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut tidak terlihat
perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya dan bersamaan dengan itu
konsep objek dalam struktur kognitifnya pun mulai dikatakan matang. Ia mulai
mampu untuk melambungkan objek fisik ke dalam symbol-simbol, misalnya mulai
bisa berbicara meniru suara kendaraan, suara binatang, dll.
2. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
Tahap ini
adalah tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit. Pada tahap ini
pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit daripada
pemikiran logis, sehingga jika ia melihat objek-ojek yang kelihatannya berbeda,
maka ia mengatakanya berbeda pula. Pada tahap ini anak masih berada pada tahap
pra operasional belum memahami konsep kekekalan (conservation), yaitu kekekalan
panjang, kekekalan materi, luas, dll. Selain dari itu, ciri-ciri anak pada
tahap ini belum memahami dan belum dapat memikirkan dua aspek atau lebih secara
bersamaan.
3. Periode operasional konkrit (usia 7–11
tahun)
Pada umumnya
anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda
benda konkrit. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan,
kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari
sudut pandang yang berbeda secara objektif. Anak pada tahap ini sudah cukup
matang untuk menggunakan pemikiran logika, tetapi hanya objek fisik yang ada
saat ini (karena itu disebut tahap operasional konkrit). Namun, tanpa objek
fisik di hadapan mereka, anak-anak pada tahap ini masih mengalami kesulitan
besar dalam menyelesaikan tugas-tugas logika.
4. Periode operasional formal (usia 11 tahun
sampai dewasa)
Anak pada
tahap ini sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang
abstrak dan menggunakan logika. Penggunaan benda-benda konkret tidak diperlukan
lagi. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan dengan objek atau
peristiwa berlangsung. Penalaran terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu
hanya dengan menggunakan simbol-simbol, ide-ide, bastraksi dan generalisasi. Ia
telah memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang
menyatakan hubungan di antara hubungan-hubungan, memahami konsep promosi.
IMPLEMENTASI
PADA PAUD
Dalam
pembelajaran anak dituntut aktif, berdasarkan pendapat Piaget dijelaskan bahwa
model pendekatan harus berdasarkan perkembangan (development position) dan
kegiatan bermain (play activity).
Untuk
membangun pengetahuan pada anak diperlukan metode pembelajaran yang tepat agar
pengetahuan yang didapat terinternalisasi dengan baik, metode tersebut antara
lain:
- Metode praktik langsung
- Metode cerita
- Metode tanya jawab
- Metode proyek
- Metode bermain peran
- Metode demonstrasi
Piaget dalam Suparno (2003:20)
berpendapat bahwa anak perlu diberikan berbagai pertanyaan untuk meningkatkan
kemampuan berpikirnya. Piaget melakukan penelitian longitudinal melalui
pengamatan tentang perkembangan intelektual pada ketiga anaknya. Pada
tahap selanjutnya Piaget juga melakukan riset pada ribuan anak lainnya.
Menurut pandangan Piaget, intelegensi anak berkembang melalui
suatu proses active learning. Para pendidik hendaknya mengimplementasikan
active learning dengan cara memberikan kesempatan kepada anak untuk terlibat
secara aktif dalam kegiatan yang dapat mengoptimalkan penggunaan seluruh panca indra
Ketika Piaget bekerja sama dengan
binet dalam pengembangan tes untuk mengukur intelegensi, ia sangat tertarik
dengan jawaban salah yang diberikan oleh seorang anak dalam tes yang diberikan
kepada mereka, sehingga ia ingin tahu dan meneliti lebih lanjut apa yang ada
dibelakang pemikiran anak terhadap jawaban salah tersebut.
Berdasarkan hasil penelitiannya, Piaget sampai pada
kesimpulan bahwa:
- Anak bermain dan berfikir aktif dalam mengembangkan kognitif mereka
- Kegiatan mental dan berpikir sangat penting untuk mengembangkan kegiatan anak
- Pengalaman-pengalaman sebagai bahan mentah untuk mengembangkan struktur mental anak.
- Anak berkembang melalui interaksinya dengan lingkungan
- Perkembangan terjadi sebagai hasil dari kematangan dan interaksi antara anak,lingkungan fisik dan social anak
Untuk membangun
pengetahuan pada anak diperlukan metode pembelajaran yang tepat agar
pengetahuan yang ingin dibangun oleh anak dapat terinternalisasi dengan baik,
metode tersebut antara lain:
- Metode praktek langsung, melalui kegiatan praktik langsung diharapkan anak akan dapat pengalaman melalui interaksi langsung dengan objek.
- Metode cerita, anak akan mendapat pengetahuan tentang bagaimana cara menyampaikan pesan pada orang lain mampu memahami pesan-pesan ingin disampaikan.
- Metode Tanya jawab, membangun pengetahuan melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sehingga anak dapat menjawab dan membuat pertanyaan sesuai informasi yang ingin diperoleh.
- Metode Proyek, memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan eksplorasi pada lingkungan sekitar sebagai proyek belajar.
- Metode Bermain Peran, anak dapat mengembangkan pengetahuan social karena dituntut untuk mempelajari dan memperagakan peran yang akan dimainkan.
- Metode Demonstrasi, menunjukkan/memperagakan suatu tahapan kejadian, proses dan peristiwa.
Cara Anak Memperoleh Pengetahuan
- Melalui interaksi social, anak mengetahui sesuai dari manusia lain ketika anak meneliti atau melihat sesuatu, anak tersebut akan tahu tentang objek jika diberitahu oleh pihak lain.
- Melalui pengetahuan fisik, yaitu mengetahui sifat fisik dari suatu benda. Penegetahuan ini diperoleh dengan menjelajah dunia yang bersifat fisik, melalui kegiatan tersebut anak belajar tenang sifat bulat, panjang, pendek, keras, lemah, dingin atau panas. Konsep tersebut didapat dari pemahaman terhadap lingkungan dimana anak berinteraksi langsung.
- Melalui logika Mathematical, meliputi pengertian tentang angka, seri, klasifikasi, waktu, ruang, dan konversi.
JEAN PIAGET
REFERENSI


Komentar
Posting Komentar