Tugas Manajemen Ke-4

Empowerment, Stress dan Konflik

A. Pengertian Empowerment
Empowerment yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti pemberdayaan adalah sebuah konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan barat utamanya Eropa. Untuk memahami konsep empowerment secara tepat dan jernih memerlukan upaya pemahaman latar belakang kontekstual yang melahirkannya

B. Pengertian Stress
Menurut Siagian stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhiemosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Orang-orang yang mengalami stres menjadi  nervous  dan merasakan kekuatiran kronis.  Mereka sering menjadi marah-marah,  agresif, tidak dapat relaks atau memperlihatkan sikap yang tidak mengatasinya. Stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya. Karyawan dapat menanggapi kondisi-kondisi tekanan tersebut secara positif maupun negatif. Akibatnya, ada konsekuensi yang konstruktif maupun destruktif bagi perusahaan maupun karyawan. Pengaruh dari konsekuensi tersebut adalah penurunan atau peningkatan usaha dalam jangka waktu pendek maupun berlangsung dalam jangka waktu lama. 

C. Pengertian Konflik
Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
     Sedangkan menurut Mullins dan Wijono (2012: 203) konflik merupakan kondisi terjadinya ketidaksesuaian tujuan dan munculnya berbagai pertentangan perilaku, baik yang ada didalam diri individu, kelompok maupun organisasi.

Jenis-jenis konflik
Jenis-jenis konflik dibedakan dalam beberapa jenis, antara lain:

1) Konflik seorang dengan dirinya sendiri
Setiap orang pasti memiliki harapan, cita-cita, keinginan, hasrat. Kesemuanya dinamakan target. Terget yang tersebut ingin dicapai, menimbulkan tekanan. Yaitu, target memaksakan orang tersebut untuk segera merealisasikan (target) untuk dapat terwujud dengan baik.

2) Konflik seorang dengan orang lain
Konflik seperti ini bisa terjadi karena permasalahan yang bersifat pribadi atau karena masalah pekerjaan. Menyebabkan seseorang dengan orang lain terlibat perselisihan dan persaingan baik secara langsung maupun perang urat syaraf.

3) Konflik seorang dengan organisasi
Jenis konflik ini bisa terjadi karena seseorang tidak puas dengan organisasi. Ketidakpuasan terjadi karena organisasi tidak bisa memenuhi tuntutan-tuntutan pekerja seperti perubahan status, kenaikan gaji, kejelasan berkarier untuk dipromosikan keberbagai posisi yang mengarah ke arah atas. Dan sebaliknya, organisasi mulai tidak memperhatikan karyawannya, karena tidak puas dengan kinerja para pekerja/pegawai.

4) Konflik antarbagian di dalam organisasi
Terjadinya konflik ini akibat salah satu bagian seperti dijadikan “anak emas” karena prestasi yang mereka hasilkan. Akibatnya bagian-bagian lain seperti merasa diabaikan dan menyebabkan adanya rasa apatis, benci, dan “menutup diri” untuk menjalin komunikasi dengan bagian lain. Bila pun akhirnya terpaksa harus bertemu bagian lain, itu hanya untuk menghindari sanksi dari atasan. Komunikasi setengah hati seperti ini, akan menyebabkan penyebaran informasi menjadi tersendat.

5) Konflik antarorganisasi
Seseorang bisa saja berteman dengan orang lain dengan akrabnya. Atau hubungan seseorang dengan yang lain begitu baik karena adanya hubungan kekerabatan. Tetapi bisa saja berubah tidak harmonis karena perselisihan. Perselisihan terjadi karena tiap-tiap orang, masing-masing membela organisasi yang berbeda. Bagaimana pun pendapat orang lain, karena loyalitas akan membela terus organisasinya. Dan karena membela organisasi seseorang bisa merusak hubungan dengan orang lain dan beranggapan lebih baik memiliki ikatan dengan organisasi karena akan

Proses-proses konflik
1.   Kondisi yang mendahului (antecendent condition). Kondisi ini terdiri dari faktor-faktor yang pada umumnya membawa pada konflik.
2.  Kemungkinan konflik yang dilihat (perceived potential conflict). Pada tahap ini satu atau kedua belah pihak  melihat kemungkinan konflik diantara mereka.
3.    Konflik yang dirasa (felt conflict). Pada tahap ini, tubrukan kepentingan dan kebutuhan terjadi. Satu pihak atau kedua belah pihak yang terlibat melihat keadaan yang tidak memuaskan, menghambat, menakutkan, mengancam.
4.  Perilaku yang tampak (manifest behavior). Pada waktu konflik sudah terjaid orang-orang menanggapi dan mengambil tindakan. Bentuknya dapat secara lisan, seperti saling mendiamkan, bertengkar, berdebat; atau nyata dalam perbuatan, seperti bersaing, bermusuhan atau menyerang.
5.   Konflik ditekan atau dikelola (supressed or managed conflict). Pada tahap ini konflik yang sudah terjadi dapat ditekan. Artinya konflik ditiadakan. Secara lahiriah konflik itu tampak seperti sudah selesai, meskipun masalah intinya tidak ditangani dan pihak-pihak yang berkonflik hanya sekedar berdampingan dalam suasana panas itu. Atau konflik dikelola dan diselesaikan.
Sesudah konflik diselesaikan ( management aftermath). Bila konflik tak dikelola dan diselesaikan, kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik menanggung segala akibatnya entah bagi diri sendiri, kerja, hubungan dengan orang lain, atau lembaga tempat orang bekerja. Bila konflik dan berhasil, pihak-pihak yang terlibat perlu menindaklanjuti hasil pengelolaan itu

D. Cari kasus yang berkaitan dengan stress dan konflik
Seratusan buruh yang mengusung puluhan bendera dan spanduk serta pamflet berisikan tuntutan serta desakan terhadap Pemprov dan DPRD Kalbar tentang perbaikan nasib mereka. Sementara Ketua Kadinda Kalbar, pengusaha Budiono Tan, dan beberapa perusahaan dikecam para buruh. Salah satu tuntutan massa buruh ditujukan kepada Ketua Kadin Kalbar agar mencabut pernyataannya tentang pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan buruh-buruh pertambangan, terkait jika diberlakukannya Peraturan Menteri ESDM No 07/2012. Tidak jelas bagaimana bentuk tuntutan serta pernyataan para buruh anggota KSBSI tersebut, namun mereka ingin kejelasan bagaimana soal PHK para buruh pertambangan di Kalbar. Sejauh ini belum tersiar kabar adanya perusahaan yang membredel atau membubarkan serikat pekerja. Namun para demonstran meminta pembredelan terhadap serikat buruh dihentikan. Terkait hal tersebut, KSBSI Kalbar mendesak adanya peraturan daerah (perda) tentang ketenagakerjaan di provinsi ini.
Problem yang paling sering dihadapi buruh industri adalah PHK tanpa pesangon akibat perusahaan mengabaikan kewajibannya. Karena itu KSBSI Kalbar mendesak penuntasan kasus-kasus PHK dan ketenagakerjaan yang masih menggantung. Aksi protes yang dilakukan parah buruh di Kalimantan Barat. Aksi tersebut dilakukan karena mereka ingin mencabut tuntutan Ketua Kadin mengenai pernyataannya tentang pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan buruh-buruh pertambangan. Selain itu juga, para demonstran menginginkan pembubaran serikat buruh diberhentikan.
Kasus ini dapat dikaitkan berdasarkan teori Herzberg, yang merupakan teori dua faktor yakni para pekerja dalam melakukan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor utama diantaranya adalah faktor pemeliharaan dan faktor motivasi. Kasus ini lebih ke dalam faktor motivasi, karena para buruh tersebut tidak lagi mendapatkan kebijakan yang baik dari perusahaan melainkan mereka mendapatkan kebijakan yang tidak adil yakni PHK. Para buruh yang mengetahui bahwa dirinya akan di PHK secara sepihak merasa tidak adil karena mereka sudah bekerja tapi tidak dihargai hasil kerja sampai di PHK secara sepihak. 

Komunikasi dalam Manajemen
A. Pengertian Komunikasi
Menurut Raymon Ross komunikasi yaitu proses menyortir, memilih serta pengiriman beberapa lambang sedemikian rupa supaya membantu pendengar membangkitkan respons/makna dari pemikiran yang sama dengan yang ditujukan oleh komunikator.

B. Proses Komunikasi
-  Komunikator
-  Pesan
-  Media
-  Komunikan
-  Pengaruh

C. Hambatan Komunikasi
-  Perbedaan Bahasa dan Persepsi
Setiap hari kita menerima input berupa pemandangan, suara, bau, dsb. Lesikar dkk (1999) mengilustrasikan oikiran kita yang mengatur input ini menjadi peta mental (mental map) yang mewakili persepsi kita mengenai realitas. Bahkan bila dua orang mengalami peristiwa yang sama, bayangan mental mereka mengenai peristiwa itu tidak akan identik. Karena persespi anda unik, gagasan yang ingin anda sampaikan berbeda dengan orang lain. Sebagai pengirim, anda memilih rincian yang tampaknya penting bagi anda, yaitu proses yang dikenal sebagai persepsi selektif. Sebagai penerima, anda mencoba menyesuaikan rincian baru kedalam pola yang sudah ada dalam diri anda.

-  Gangguan Komunikasi
Menurut Locker (2000), ada 2 gangguan dalam berkomunikasi, yaitu:
1)  Gangguan Emosional. Anda akan sulit menyusun pesan jika anda sedang kecewa, marah, atau takut.hal inilah yang menyebabkan gagasan dan perasaan sering membuat kita sulit bersikap objektif.
2)  Gangguan Fisik. Hambatan komunikasi sering kali bersifat fisik: hubungan yang buruk ,akustik yang jelek, dan tulisan yang tak dapat dibaca. Walaupun gangguan jenis ini tampaknya kecil, namun hal ini dapat menghambat pesan yang sebenarnya efektif.

-  Overload Informasi
Komunikasi bisnis sering terganggun karena materinya rumit dan kontroversial. Jumlah pesan  bisnis yang disampaikan semakin hari semakin banyak dan peluang untuk terjadinya umpan balik sering terbatas, sehingga sulit untuk meluruskan salah pengertian ketika hal itu terjadi. Dengan memahami berbagai hambatan komunikasi yang ada dalam organisasi, peluang untuk mengatasinya akan meningkat.
-  Penyaringan yang Tidak Tepat
Menyaring adalah membuang atau menyingkat informasi sebelum pesan itu diteruskan kepada orang lain. Namun apabila hal tersebut mempengaruhi jumlah dan mutu informasi yang diteruskan, tentu akan mempengaruhi komunikasi efektif yang diharapkan. Dalam bisnis, banyak saingan antara anda dan penerima, sekretaris, asisten, mesin penjawab, dan voice-mail.

D. Pengertian Komunikasi Interpersonal efektif dalam organisasi
Komunikasi interpersonal dapat dikatakan efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindalanjuti dengan sebuah pembuatan secara sukarela oleh penerima pesan, dapat meningkatkan kualitas hubungan antar pribadi, dan tidak ada hambatan akan hal itu. Komunikasi interpersonal efektif adalah komunikasi yang terkandung dalam tatao muka dan slaing mempengaruhi, mendengarkan, menyampaikan pernyataan, keterbukaan, kepekaan yang merupakan cara paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung.
Adapun komunikasi efektif dalam organisasi mencakup dua jenis, yakni:
-  Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi denganmengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
-  Situational
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung di sekitarnya.

E. Model Pengolahan Informasi dalam Komunikasi
Model ini berdasarkan teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan seseorang dalam memproses informasi untuk memperbaiki kemmapuannya. Pengolahan informasi mengacu kepada cara orang menangani rangsangandari lingkungan, mengorganisasi data, mengembangkan konsepdan memecahkan masalah, serta mengunakan lambang verbal dan non verbal.
Model pengolahan informasi mencakup empat jenis, yaitu:
v  Rational : Model ini berasumsi bahwa orang beroperasi dalam model pengolahan dikontrol menggunakan prosedur analitis.
v  Limited Capacity : Model ini menunjukkan bagaimana orang menyederhanakan pengolahan informasi.
v  Expert : Model ini bergantung pada model limited capacity.
v  Cybernetic : Model ini berpendapat bahwa informasi diproses dari waktu ke waktu.

F. Model Interaktif Manajemen dalam Komunikasi
Model interaktif manajemen mencakup lima jenis, yaitu:
Ø  Confidence
Dalam manajemen, timbulnya suatu interkasi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
Ø  Immediacy
Model organisasi yang membuat suatu organisasi tersbeut menjadi segar dan tidak membosankan.
Ø  Interaction Management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen, seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
Ø  Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
Ø  Other Orientation
Adanya komunikasi antara komunikasi dengan satu pihak ke pihak lain, sebagai tukar menukar informasi.

Daftar Pustaka
Suhendra, 2006. Peranan Birokrasi dalam Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Alfabeta.
Siagian, Sondang P . 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara, Jakarta.
Martono, M. 1994. Konflik di Tempat Kerja. Yogyakarta: Kanisius
Robbin, Stephen P. 2008. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat
Sukoco, Badri M. 2007. Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Jakarta: Erlangga
Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori Dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Med Press
Nugroho, Wahjudi. 2009. Komunikasi Dalam Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Psikologi Umum

Psikologi Manajemen dan Planing/ Perencanaan

To my dearest friends