Tugas ke-3 Hubungan Intrapersonal dan Cinta dan Perkawinan
Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal
adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi
pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita
berkomunikasi kita tidak hanya menentukancontent melainkan juga
menentukan relationship.
Dari segi psikologi
komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal,
makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya
tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang
berlangsung diantara komunikan.
A.Model – model
Hubungan Interpersonal
Terdapat 4 model hubungan intrapersonal, yaitu :
1. Model Pertukaran
Sosial (social exchange model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang.
Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi
kebutuhannya. Dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat
positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil atau laba (ganjaran dikurangi
biaya).
2. Model Peranan (role model)
Model peranan
menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap
orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan
dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role
expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki keterampilan (role
skills) dan terhindar dari konflik peranan.
3. Model
Interaksional
Model ini memandang
hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki
sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua system terdiri dari
subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu
kesatuan.
4. Model
permainan (games people play model).
Model menggunakan
pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam
berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian
dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
a)Kepribadian orang tua (aspek
kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua
atau yang dianggap sebagi orang tua).
b)Kepribadian orang
dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional).
c)Kepribadian
anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak
yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
B.Memulai Hubungan
tahap-tahap untuk menjalin hubungan interpersonal, yaitu:
1. Tahap
pembentukan
Tahap ini juga dikenal
dengan tahap perkenalan. Tahap awal yang dilakukan adalah mencari tahu
identitas orang yang dituju kemudian jika menemui kecocokan tahap selanjutnya
adalah mencari tahu data demografis orang yang dituju.
Menurut Charles R.
Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh
kategori, yaitu:
a) informasi
demografis;
b) sikap dan pendapat
(tentang orang atau objek);
c) rencana yang akan
datang;
d) kepribadian;
e) perilaku pada masa
lalu;
f) orang lain;
serta
g) hobi dan minat.
2. Tahap
Peneguhan Hubungan
Hubungan interpersonal
selalu berubah-ubah, oleh karena itu untuk memelihara hubungan tersebut
dibutuhkan untuk mengembalikan keseimbanan, beberapa faktor yakni :
a)
Keakraban : Pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang
b)
Kontrol : Kesepakatan pengontrolan
c)
Respon yang Tepat : Ketepatan respon dalam pesan verbal maupun nonverbal
d)
Nada Emosional yang Tepat : Keserasian suasana emosional ketika komunikasi
sedang berlangsung
3. Tahap
Pemutusan Hubungan
Menurut R.D. Nye dalam
bukunya yang berjudul Conflict Among Humans, setidaknya ada lima
sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan, yaitu:
a. Kompetisi :
salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain.
Misalnya, menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan orang
lain.
b.
Dominasi : dimana salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain
sehingga orang merasakan hak-haknya dilanggar.
c. Kegagalan :
dimana masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama
tidak tercapai.
d. Provokasi
:dimana salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui
menyinggung perasaan yang lain.
e. Perbedaan nilai :
dimana kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
C.Hubungan Peran
1.
Model Peran
Menganggap hubungan
interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan
peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan
interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.
2.
Konflik
Konflik Interpersonal
adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan
kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda
status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini
merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi. Karena
konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota
organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan
organisasi tersebut.
3.
Adequacy Peran dan Autentisitas Dalam Hubungan Peran
Kecukupan perilaku yang
diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik
secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi (ketentuan)
dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam
suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan
orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
4.
Intimasi dan Hubungan Pribadi
Sebagai konsekuensi
adanya daya tarik menyebabkan interaksi sosial antar individu menjadi spesifik
atau terjalin hubungan intim. Adapun bentik intim terdiri dari
persaudaraan, persahabatan, dan percintaan.
D.Intimasi dan Hubungan
Pribadi
-Intimasi ( kelekatan
atau keakraban ) atau sering disebut juga sebagai proximity, propinquity.
Orang yang mempunyai kesempatan paling sering kita jumpai adalah orang yang sangat
mungkin menjadi sahabat kita atau kita cintai ( Berscheid & Reis, 1998 ). Festinger
dkk (1950) menunjukkan bahwa ketertarikan dan kedekatan hubungan tidak hanya tergantung
pada fisik yang nyata, melainkan juga karena jarak fungsional. Jarak fungsional
menunjuk pada aspek desain arsitektur yang memungkinkan beberapa orang bertemu
lebih sering, Efek keakraban terjadi karena familiaritas.
Hubungan Pribadi
Ada dua hal yang
mengawali suatu hubungan pribadi, yaitu kondisi suka dan cinta. Hal ini berbeda
menurut beberapa ahli psikologi seperti Rubin, menurutnya :
-
Kesukaan lebih didasarkan pada afeksi dan respek. Hal ini dikaitkan dengan
kesepakatan tentang kualitas positif seorang teman dan kebutuhan untuk menjadi
sama dengan teman tersebut.
-
Kecintaan bersandar pada keintiman, kelekatan dan peduli terhadap
kesejahteraan pihak lain. Berawal dari hal – hal tersebut, terbentuklah
suatu hubungan seperti relasi sosial dan pasangan hidup. Baik relasi jangka
pendek maupun jangka panjang. Dalam suatu hubungan juga perlu adanya
companionate love, passionate love dan intimacy love. Karena apabila kurang
salah satu saja di dalam suatu hubungan atau mungkin hanya salah satu di antara
ketiganya itu di dalam suatu hubungan maka yang akan terjadi adalah hubungan
tersebut tidak akan berjalan dengan langgeng atau awet,
E.Intimasi dan
Pertumbuhan
Hal yang mempengaruhi
keintiman itu tumbuh adalah cinta. Dan keintiman tidak akan tumbuh jika tidak
ada cinta. Keintiman adalah proses menyatakan siapakah kita sebenarnya kepada
rang lain, keintiman juga suatu kebebasan menjadi diri sendiri. Dan keinginan
setiap pasangan adalah menjadi intim. Namun banyak respon alami kita
adalah menolak untuk terbuka terhadap pasangan karena beberapa hal, yakni :
1. Tidak
mengenal dan menerima siapa diri kita secara utuh
2. Tidak
menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan menuju pernikahan.
3. Tidak
mempercayai pasangan dalam memegang rahasia.
4. Kita
dibentuk menjadi seseorang yang berkepribadian tertutup.
5. Memulai
hubungan atau pacaran bukan dengan cinta yang tulus.
2. Cinta
dan Perkawinan
Cinta adalah sebuah
emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks
filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan
belas kasih dan kasih sayang. Stenberg mengemukakan bahwa cinta memiliki tiga
dimensi, yaitu hasrat, keintiman, dan komitmen.
1. Hasrat,
dalam dimensi hasrat menekankan pada intensnya perasaan serta perassan yang muncul
dari daya tarik fisik dan daya tarik seksual. Pada jenis cinta ini, seseorang
mengalami ketertarikan fisik secara nyata, selalu memikirkan orang yang
dicintainya sepanjang waktu, merasa sangat bahagia dan lain-lain.
2. Keintiman,
dimensi ini tertuju pada kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan
yang mengikat mereka
untuk bersama.
3. Komitmen/keputusan,
dimensi komitmen dimana seseorang berkeputusan untuk tetap bersama dengan
seorang pasangan dalam hidupnya.
Perkawinan adalah
ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk
hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat
yang meresmikan hubungan antar pribadi yang biasanya intim dan
seksual.Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan.
Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.
A.Memilih Pasangan
Penelitian Bush dkk
(Bus 1989; Buss dkk, 1990) dengan subjek dari 37 negara yang menanyakan
berbagai kriteria pemilihan pasangan (untuk menikah) dan seberapa penting kriteria
tsb, pada umumnya perempuan menilai kriteria ambisius, rajin, penghasilan yang baik
lebih tinggi (penting) daripada subjek laki-laki, dan subjek laki-laki menilai
lebih penting daya tarik fisik. Bagaimanapun perlu dicatat bahwa berbagai
penelitian menyatakan bahwa karakteristik paling tinggi pada laki-laki maupun
perempuan adalah kejujuran, dapat dipercaya, dan kepribadian yang baik.
b. Hubungan
Dalam Perkawinan
1. Romantic Love
Saat ini adalah saat
Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini terjadi di
saat bulan madu pernikahan. slalu bersama-sama dalam situasi romantis dan
penuh cinta.
2. Dissapointment
or Distress
Di tahap ini pasangan
suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa pada
pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya.Menurut Dawn tahapan
ini bisa membawa pasangan suami-istri ke situasi yang tak tertahankan lagi
terhadap hubungan dengan pasangannya. Banyak pasangan di tahap ini memilih berpisah
dengan pasangannya
3. Knowledge
and Awareness
Pasangan suami istri
yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri
pasangannya. Pasangan ini juga sibuk menggali informasi tentang bagaimana kebahagiaan
pernikahan itu terjadi.
4. Transformasion
Suami istri di tahap
ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan di hati pasangannya. Anda
akan membuktikan untuk
menjadi pasangan yang tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini sudah
berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam mensikapi
perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan
penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan
kehidupan perkawinan yang nyaman dan tentram.
5. Real
Lo
“Anda berdua akan
kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan
kebersamaan dengan pasangan,” ujar Dawn. Psikoterapis ini menjelaska pula bahwa
waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri seolah digunakan untuk saling memberikan
perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya
sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dan pasangan
jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi
dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat Dawn.
c. Penyesuaian
dan Pertumbuhan Dalam Perkawinan
Perkawinan tidak
berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan
diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari
ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup
yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah
perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan
banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta
terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak. Dalam kondisi perkawinan
seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis. Pada
dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup
perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan
yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.
d. Perceraian dan
Pernikahan Kembali
Pernikahan bukanlah
akhir kisah indah, namun dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui
masalah. Banyak dari orang-orang yang menikah pada akhirnya harus bercerai.
Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan
kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan.
Faktor penyebab
perceraian antara lain adalah sebagai berikut :
-
Ketidakharmonisan dalam rumah tangga
-
Krisis moral dan akhlak
-
Perzinahan
-
Pernikahan tanpa cinta
-
Adanya masalah-masalah dalam perkawinan.
Sebagai manusia, kita
memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal
yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode
tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang
menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama kelamaan,
semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia.
Esensi dalam pernikahan
adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan
pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama. Jika ingin
sukses dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu, jangan
biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati. Menikah Kembali setelah perceraian
bisa menjadi pengalaman menarik. tinggalkan masa lalu dan berharap untuk masa
depan yang lebih baik.
e. Alternatif selain
Menikah
Ada juga beberapa orang
yang memutuskan untuk tidak memiliki pasangan. Mungkin mereka beranggapan bahwa
ketika kehidupan itu kita jalani dengan pasangan akan terasa sulit karena
menemukan berbagai persoalan yang nantinya kemungkinan bisa saja kita hadapi.
Akan tetapi hakikatnya menikah itu adalah ibadah. Hidup akan lebih indah melalui
segala bentuk kehidupan bersama pasangan. Seseorang yang memutuskan untuk
sendiri (single life) bisa saja disebabkan karena traumatik tersendiri yang
pernah mereka rasakan sehingga membuatnya untuk tidak berani lagi memulai hidup
secara bersama. Pengalaman memang berperan penting dalam kelangsungan
hidup seseorang. Ia bisa mengubahnya menjadi lebih kuat namun tidak
sedikit yang lemah karenanya. Membuat seseorang takut memulai, namun juga
menimbulkan arti yang mendalam.
Komentar
Posting Komentar