Sepasang Merpati (karya tangan kedua)


Pagi itu langit tampak cerah dan hembusan lembut angin meniup rambutku untu terurai lepas. Aku menikmati tiap langkah kaki ku menuju tempatku kuliah. Tanpa ku sadari ada tangan yang memegangku erat namun lembut. Aku mengenal betul siapa pemilik tangan tersebut, dia adalah Gary sahabat kecilku yang telah menjadi kekasihku sejak lulus. Aku tak tahu mengapa rasa nyamanku berubah jadi rasa cinta terhadapnya. Menurut Gary jika aku menjadi pacarnya maka dia bisa lebih optimal dalam menjagaku. Hari kami pun menjadi lebih berwarna karna dihabiskan bersama dengan Gary.
“ Nadia.. Nad.. jangan masuk dulu “ teriak Gary yang sambil berlari menghampiri seorang gadis yang sedari tadi berjalan sendirian.
“Eh kamu kenapa kesini? Ini sudah hampir malam, pulanglah nanti mamih mu mencarimu” jawabku dengan senyum hangat.
“Aaaaahhh aku hanya ingin memastikan bahwa belahan hatiku pulang dengan selamat sampai tujuan. Sampai ketemu besok yah, jangan lupa menelponku 1 jam lagi “ jawabnya sambil memperagakan orang bertelepon.
“Baiklah.. aku masuk dulu yah” jawabku, lalu aku meninggalkan Gary yang sedari tadi tak henti memperhatikanku.
Tanpa kusadari aku lupa menelpon Gary karna terlalu lelap dalam tidurku. Malam itu aku bermimpi bahwa Gary sedang duduk ditaman dan menggendong seorang bayi lucu didalam dekapannya. Aku pun menghampirinya dengan senyuman, namun tiba-tiba datang seorang wanita menghampiri Gary dan mencium bayi manis itu. Aku menghentikan langkahku saat melihat wanita itu mendahuluiku dan duduk disebelah Garu. Mereka terlihat serasi dan seperti keluarga harmonis. Aku hanya dapat menangis dibelakang bangku tersebut dan terus terisak sejadi-jadinya.
“hikshikshiks.. astaga aku memimpikan itu lagi… ada apa ini ? apa maksud mimpi itu? “ pikirku sambil menyeka air mata dipipiku
Aku tak berani menceritakan mimpi yang sering hadir dimalam ku. Saat Gary sedang ijin kekamar mandi tiba-tiba ponsel Gary berbunyi. Aku penasaran dan membuka siapa yang mengirim sms pada Gary. Namun tiba-tiba air mata ku jatuh tak tertahan saat membaca isi dari pesan tersebut. “Gary.. aku telah menghubungimu selama 2bulan ini dan bagaimana dengan janin ini? Aku tau kamu dan aku dalam keadaan khilaf saat itu. Tapi aku takkan pernah sanggup menggugurkan janin ini. Bertanggung jawablah Gary sebagai seorang lelaki yang ku kenal “. Aku sontak terkejut hingga merasa seluruh tubuhku lemas dan tak kusadari sedari tadi Gary sudah berada dibelakangku.
“Tanggung jawablah atas bayi yang wanita itu kandung, aku takkan marah kepadamu. Sungguh…” pintaku
“Maafkan aku telah melukai hatimu.. maafkan aku tak bisa menjaga kepercayaanmu tapi aku sungguh khilaf Nad.. saat aku memendam rasa terhadapmu dan aku melihatmu dekat dengan lelaki yang satu kelas denganmu maka timbul lah sakit hati dan aku mencari pelarian atas itu. Maafkan aku telah mengecewakanmu” jawabnya dengan muka tertunduk
“Aku telah memaafkanmu. Bertanggung jawablah Gary demi ku “ jawabku, lalu menghilang meninggalkannya yang masih terduduk
Aku tau dia bersalah. Aku pun tau ini tidak sepenuhnya salahnya karna dia begitu karna sakit hati terhadapku. Sebulan sejak  kejadian itu aku tak pernah bertemu dengan Gary, ia telah pindah keluar kota untuk menikah dan memulai hidup barunya.
3 tahun kemudian
Aku terburu-buru dan sepertinya aku akan telat sampai kantorku. Saat sedang terburu-buru aku melalui taman tempat aku dan Gary menghabiskan waktu kami dulu. Aku memang sengaja melewati rute itu karna bagiku dengan melewati taman itu aku dapat mengingatnya dan itu adalah motivasiku untuk tetap hidup dalam kesepian ini. Aku melihat sosok pria yang sedang menggendong batita tampan, lelaki itu mengenakan kaos oblong dan berambut sedikit gondrong. Aku menghampiri mereka, namun langkahku terhenti karna aku berfikir mana mungkin itu adalah Gary dan aku pun berbalik. Lalu tiba-tiba kudengar suara yang sangat ku kenal. Ya.. suara itu tak asing bagiku.
“Raka ini dulu tempat favorit papah semasih muda dulu. Papah selalu menghabiskan waktu disini dengan orang yang papah cintai” terangnya
“Gary…. Apakah itu kau? Aku sangat merindukanmu.. “ jeritku sambil mendekat dan memeluk nya.
“Nadia????? Ya.. ini aku sayang.. aku takkan meninggalkanmu lagi. Aku janji “ jawabnya sambil membalas pelukanku.
Setelah kejadian itu aku pun menikah dengan Gary karna pesan Anita (almarhum istrinya) meminta Gary balik ke pelukanku dan meminta maaf karna telah mengambil Gary dariku. Aku menerima Raka sebagai anakku. Aku sangat sayang terhadap Raka.


Setelah sekian lama aku dan Gary tak berkunjung ke taman ini. Aku dan Gary serta Raka pergi kesana dan melepaskan burung merpati putih. Aku pun menutup mataku sejenak dan mengucap doa “Tuhan biarkanlah kami menjadi sepasang merpati yang indah.. Terima kasih telah mengembalikan merpatiku.. aku berjanji akan selalu menjaganya” 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Psikologi Umum

Psikologi Manajemen dan Planing/ Perencanaan

To my dearest friends